Kisah Cinta Rasulullah Pada Khodijah [ Aku Dikaruniai Cintanya ]
Judul Asli: Aku
Dikaruniai Cintanya
Penulis:
Poppy Yuditya
Sumber: https://goo.gl/H6WPQk
“Sungguh, aku dikaruniai cintanya.” demikianlah kalimat Rasulullah ﷺ
ketika menggambarkan Ummul Mukminin,
Khadijah radhiallahu anha.
Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah, ketika beliau merasa sangat
cemburu kepada Rasulullah karena Rasulullah seringkali memuji Khadijah dan
menyebut-nyebut namanya.
“Aku tidak cemburu pada istri-istri Nabi seperti aku cemburu kepada
Khadijah, padahal aku tidak pernah menjumpainya.”
Apa yang sebenarnya Rasulullah rasakan
hingga membuat kalimat sedemikian dalam untuk menggambarkan sosok
Khadijah?
Aku dikaruniai cintanya…
Cinta macam apa yang diberikan oleh Khadijah hingga Rasulullah merasa
dikaruniai oleh cinta Khadijah?
![]() |
Mari kita sama-sama menyimak hadits berikut:
“Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya? Ia beriman
kepadaku kala orang-orang ingkar kepadaku. Ia membenarkanku kala orang-orang
mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya kala orang-orang tidak memberiku.
Dan Allah memberiku anak-anaknya kala Ia tidak memberiku anak dari
wanita-wanita lain.” (HR. Ahmad)
***
Aku Dikaruniai Cintanya
(Sebuah Muhasabah Bagi Para Istri)
Seringkali kita merasa paling berjasa dalam rumah tangga ini. Kita
yang mengurus rumah, dari kebersihan, keteraturan, kerapihan, hingga
mengajarkan anak-anak kita dalam kesehariannya.
Kelelahan kita dengan pekerjaan rumah tangga. Emosi naik turun yang mewarnai
proses pendidikan anak-anak kita. Kejenuhan dengan rutinitas sehari-hari yang
never ending. Kebosanan karena merasa terlalu banyak diam di rumah.
Aaaaaaaaaaah…..
Berjuta rasanya hingga kalimat tak cukup untuk mendeskripsikan
berkecamuknya rasa.
Maka betapa terhiburnya hati kita ketika tahu bahwa Rasulullah
membantu pekerjaan rumah tangga istrinya. Lalu kita sibuk meminta pada pada
para suami, “Tuh Rasulullah saja membantu pekerjaan istrinya,” begitu kita
berkata.
Ketika kita tahu Rasulullah mengajak istrinya untuk menonton
pertunjukkan, segera kita mintakan padanya hal yang sama. “Rasulullah juga
mengajak istrinya nonton lho…”
Ketika Rasulullah mengatakan aku adalah orang paling baik pada
keluargaku, maka ketika suami marah, kita berkata,”Rasulullah itu orang yang
paling baik pada keluarganya,” seakan Rasulullah tak pernah menegur
istri-istrinya.
Wahai diri yang mudah menghakimi…
Kali ini mari kita pakai kaca dan rasa dalam menuntut.
Aisyah radhiallahu anha mencatatkan bahwa Khadijah adalah wanita yang
Rasulullah tak memadunya hingga Khadijah meninggal dunia.
Jibril menyampaikan salam dari Rabbnya kepada Khadijah, dan
menyampaikan salam dari dirinya kepada Khadijah. Serta meminta Rasululllah
menyampaikan kabar gembira sebuah rumah di surga dari mutiara cekung, yang
tiada kegaduhan dan keletihan di dalamnya.
Bagaimana kemuliaannya hingga Rasululllah berkata , “Aku dikaruniai
cintanya”?
***
Ketika suami pulang kemudian memutuskan membawa perubahan yang
menurutnya baik bagi keluarga, tapi sangat drastis dan membutuhkan banyak
pengorbanan dan perubahan yang signifikan dalam kenyamanan hidup kita. Apa yang
kita lakukan? Apakah langsung menerimanya?
Simaklah ini,
Rasulullah pulang membawa risalah baru, siapa yang pertamakali
beriman? Istrinya!
Apakah Khadijah tak tahu konsekuensi duniawi dari apa yang dibawa
Rasulullah?
Khadijah adalah wanita cerdas, punya kecenderungan taat beragama,
berwawasan luas, idealisme tinggi, kedudukan tinggi di kaum Quraisy, dan kaya
raya.
Beliau berada pada posisi yang sangat nyaman secara duniawi.
Dengan kecerdasan beliau, mungkinkah
beliau tak tahu apa akibatnya menerima risalah yang dibawa
suaminya?
Justru karena semua kemuliaan yang dimilikinyalah, beliau memilih
untuk beriman dan menjadi manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah dalam
sejarah.
Ketika suami gundah karena ada masalah besar yang tak pernah disangka
akan menjadi ujian besar bagi keluarga. Apa yang kita lakukan?
Sibuk lebih panik? Memikirkan bagaimana nasib kita dan anak-anak esok
hari? Menangis dan bertanya bertubi-tubi hingga suami tak lagi sanggup
menjawab?
Simaklah ini,
Rasulullah pulang menerima wahyu pertama dalam kondisi gemetar
ketakutan. Khadijah memeluknya, menyelimutinya, mendengarkan curahan hati
suaminya. Kemudian menghiburnya dengan kata-kata pujian pada suaminya untuk
menenangkannya. Bahkan keesokan harinya Khadijah mengajak Rasulullah menemui
Waraqah yang diyakini dapat memberi solusi bagi keresahan suaminya.
Lihatlah kekuatannya dan kecerdasan akalnya untuk membantu suaminya
menemukan solusi permasalahannya.
Ketika kita sibuk mempertanyakan perbedaan antara uang nafkah dan uang
belanja istri, Khadijah tak pusing soal itu. Dia lah yang sudah lebih dahulu
menyerahkan hartanya untuk suaminya.
Ketika kita sibuk mengaku lelah seharian bekerja di rumah dan bad mood
ketika melayani suami, Khadijah tak mengeluh ketika mendaki gunung memberi bekal makan untuk
suaminya yang beruzlah.
Ketika kita sibuk menuntut waktu lebih suami untuk kita, Khadijah yang
pertama kali mendukung dakwah suaminya walau itu artinya waktu untuk keluarga
akan terbagi.
Ketika kita keberatan karena keluarga suami tinggal di rumah kita,
Khadijah menyambut dengan tangan terbuka dan penuh cinta. Bahkan memberikan
banyak hadiah atas kehadiran Ali bin Abu Thalib dan Zaid bin Haritsah.
Ketika kita sibuk membatasi jumlah anak karena enggan repot dan merasa
usia sudah bertambah, Khadijah di usianya yang
matang melahirkan 6 anak bagi Rasulullah.
Ketika kita ribut minta piknik, Khadijah melepas kepergian sang putri
tercinta untuk hijrah ke Habasyah. Tak ada piknik bagi mereka.
Ketika kita menangis menuntut nafkah yang kurang dari suami, Khadijah
menangis karena khawatir tak ada lagi
yang bisa disumbangkannya untuk suami dan dakwah Islam.
”Wahai Rasul utusan Allah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang
bersamaku untuk aku sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku,
tulang-tulangku mampu ditukar dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah
tulang-tulangku demi kepentingan dakwah yang panjang ini”.
Subhanallah....
Jadi di posisi mana kemuliaan kita sebagai istri?
Mari pakai kaca, pakai rasa!


Tidak ada komentar